Kamis, 19 April 2018

Jangan Takut Memilih


Bismillahirrohmanirrahim
Assalamu’alaikum Rembang....
Yay, Rembang adalah kota kelahiran saya, kota dimana saya menghabiskan masa kecil, masa remaja, dan InsyaAllah masa dewasa dan masa tua (pengennya sih begitu) Hehehe...
Dari TK, SD, SMP, dan SMA tinggal bersama orang tua, saat memasuki bangku perkuliahan saya harus keluar dari Rembang dan LDR dengan orangtua...huhuhu sedih sih, apa lagi saya tergolong anak yang dimanjakan. Tapi saat kuliahpun saya tinggal bersama mbah, bisa sih ngekos tapi tinggal bersama mbah adalah pilihan saya walaupun jarak rumah mbah ke kampus 'agak' jauh tapi tak apalah harus terima resiko dong, kan sudah memilih... Resikonya? Saya jadi tidak begitu pandai mengatasi masalah sendirian. Tapi saya harus belajar, tidak selamanya tangan-tangan itu menggenggam kita bukan? *Eaaakk
Permintaan orangtua sih saya kuliahnya diarea kota dimana mbah tinggal biar mudah pengawasannya gitu, jujur tempat dan jurusan dimana saya kuliah itu atas saran orangtua, ya karena dari dulu saya ga tau mau kuliah dimana dan jurusan apa setelah saya berkali kali ditolak universitas pilihan saya. Sakit? Sakit sih dikit...hahaha ya itu sudah resiko karena saya kekeh pengen di univ itu, ga ada yang lain, ya pkoknya harus itu (keras kepala) *emang...hahaha rasa sakit yang dulu saya rasakan itu juga pilihan saya... Alhamdulillah punya orangtua yang sabar *hehehe
Pilihan orangtua tidak akan menjerumuskan anaknya kok (orangtua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya)...Husnudzon saja... Alhamdulillah saya baik-baik saja selama saya mengikuti pilihan orangtua (banyak membangkangnya sih sejujurnya *tidak untuk ditiru).
Setelah lulus kuliah, saya diberi kelonggaran buat milih tetep stay sama mbah atau pulang ke Rembang. Dan saya memilih....jengjengjeng.....ikut pulang ke Rembang. Kalo ditanya kenapa? Ya saya belum bisa move on dari Rembang, walaupun sudah mencicipi keindahan kota lain, tapi tetap pengen pulang Rembang. Itu pilihan saya, dan saya akan menanggung segala resikonya 💪. Banyak orang bertanya “kenapa ngga disana saja? Kan disana kota besar, lapangan pekerjaan lebih luas, tawaran gaji lebih besar” ya saya tau, saya menyadari itu. Rembang bukan kota besar, sepi (katanya), hanya sebuah daerah diperbatasan provinsi jateng dan jatim. Hanya? Bukan hanya deng... hahaha. Tapi, kalo hati sudah nyaman gimana dong? Apa kenyamanan bisa ditukar dengan karir yang bagus? Gaji besar? Atau iming-iming dunia yang lain? Banyak yang memaksa aku tetap stay dikota itu, tetapi aku jawab “biarkan aku mencoba memilih jalan hidupku sendiri, dan akan ku terima segala resikonya” *Eaaa.. banyak yang dikecewain pasti, tapi aku tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu gaes percayalah 😖 apasih salahnya anak Rembang pulang ke Rembang? Kalo bisa sih saya pengen terlibat dalam membangun kota Rembang biar jadi rame dan maju. Pengennya...Semoga Allah mengijinkan...hehe
*Awalnya sih disuruh milih, tapi ttp ada yang maksa 😄* tak apa, semua orang boleh kok berpendapat untuk mengubah pemikiranku, tapi keputusan pilihan tetap ditanganku donggg...haha
Setelah di Rembang, saya berusaha untuk istiqomah mencari pengalaman di Rembang, dan akhirnya.... Yaasss I did it, saya berhasil diterima di salah satu tempat (pekerjaan) yang saya pilih sendiri. Tapi, sayangnya orangtua tidak mengijinkan... Beliau-beliau menginginkan saya bekerja ditempat yang lebih dekat dengan rumah. Setelah memalui perdebatan yang panas, saya memutuskan untuk.... Oke saya mengundurkan diri dengan berat hati. Sedih? Pasti... Dan saya harus menunggu rumah lebih lama lagi, tak apa... nurut sama orangtua ngga salah kok, ada balasannya InsyaAllah. Ya itu pilihan saya untuk lebih tidak mementingkan ego saya, bodoamat lah sama omongan netijen kanan dan kiri, jalan lain masih terbuka gaes.... Ridho orangtua Ridho Allah juga InsyaAllah 😊 bukankan kehidupan kita didunia sudah ada yang mengatur? Jangan lupa  disetiap kita menentukan pilihan selalu melibatkan Allah didalamnya, karena Allah Yang Maha Mengetahui, Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk, Allah Yang Maha Pemberi Pertolongan dan Allah adalah Pembuat Skenario Terbaik, percayalah 😉. Kalian yang memilih, Orangtua dan Allah yang meridhoi di setiap langkah pilihanmu 😊 Semangaattt....Bahagia lewat jalan mana itu kalian yang pilih, dan setiap pilihan pasti ada resikonya, jangan takut untuk memilih, yakinlah pertolongan Allah itu dekat... Allah always besides us...😊

Kamis, 12 April 2018

Setiap Tugas Akhir a.k.a Skripsi Punya Perjalanannya Masing-Masing


        Tugas Akhir atau lebih kerennya skripsi memang seringkali menjadi sebuah pertanyaan dan memacu timbulnya rasa penasaran. Kata orang yang sudah lulus kuliah sih, "Ngerjain Skripsi atau penelitian itu indah untuk dikenang tapi tak mau untuk diulang". Banyak perjuangan dan pengorbanan menjadi pemanis kisah pengerjaan tugas penutup masa kuliah ini ibarat kata sih "Last Boss-nya" hahaha. hal ini juga terjadi padaku yang manusia biasa ini.
          Tulisan ini sebenarnya terpikirkan karena sebuah celetukan di grup whastapp sebuah kelompok mahasiswa daerah atau kalo di IPB lebih seringnya disebut Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) Rembang *Yah gue dari Rembang coyy yang nyasar di Bogor 😎*. Dalam grup itu hayati ini yang termasuk golongan akhir dalam selesainya skripsi yaa karena milih jalan yang beda juga sih *setiap orang bebas milih lah yaa termasuk jodoh hahaha*. Dimulai dari pernyataan seorang teman "Mi, kok sepertinya jalanmu menyelesaikan skripsi banyak halangan ya, apa perlu dibuatkan bubur sebagai tanda syukuran biar lancar?" Aku hanya tertawa kecil saja *mentang-mentang dia mau tunangan, sekalian juga nawarin aku dibuatkan bubur syukuran 😣* seketika saja aku flashback mengenang perjuangan dulu sembari nunggu pesanan capcay yang belom datang di malam hari pukul 21.00 WIB, percayalah makan di malam hari itu termasuk kenikmatan nak hahaha. Tulisan ini juga semoga menjadi sebuah pembelajaran bagi penulis dan pembacanya agar menambah hikmah dalam kehidupan.
           Sebenarnya sejak tahun 2015 aku sudah menyiapkan rencana untuk lulus telat *hal ini aku pilih karena ada janji dan tujuan yang harus aku tunaikan di Organisasi setingkat KM IPB, kalo kalian dari IPB pasti tau lah yaaa haha*, sudah ku diskusikan juga dengan orang tua, bahkan dalam memilih dosen pembimbing skripsi. Ijin sudah kudapatkan kini tinggal rencana pemilihan dosen pembimbing skripsi. Waktu itu ada dua pilihan, pertama lulus telat sekalian karena dosennya sedang menjabat menjadi rektor, yang kedua setelah selesai amanah organisasi langsung bisa lulus cepat. Pemilihan dospem dilakukan dengan musyawarah angkatan, siapa duluan dan siapa beruntung akan mendapatkan dospem tujuannya. Awalnya sudah aku pilih ke pilihan pertama karena yang dospem pilihan keduaku banyak yang milih ada 9 orang dan bakalan 4 orang saja yang terpilih, sementara pilihan pertama? baru satu orang pun hehe. Sudahlah daripada ku berpikir lagi ku pilihlah yang sudah pasti *aku trauma digantung, ini hati bukan pakaian loundry 😎* Lhoh mik kenapa ceritanya skripsi sampe ke pemilihan dospem? seg ya cerita ini bakalan berpengaruh pada skripsi, wacanen seg iki ya cah ayu lan ganteng. 
           Qodarullah wama sya'a fa'ala, tetiba hati ini bergeming, yang awalnya mantap pilihan pertama, terbesit untuk mencoba pilihan kedua padahal sudah jelas berapa saingannya. Tapi rencana Allah Kun Fayakun, meskipun saingannya 9 orang dan aku diurutan 8 tapi aku berhasil masuk jadi 4 orang yang terpilih jadi dospemku. Dan inilah awal dari perjalanan tugas akhirku.
           Tahun 2016, menjadi tahun yang paling sibuk, mengemban amanah besar dipundak beserta menjadi panitia pemilihan presma dan wapresma, ditambah harus seminar dan menyiapkan PL. Suatu tahun yang melelahkan tapi menyenangkan hahaha. Alhamdulillah dospemku ini baik sekali dan nggak terlalu ribet, ketika yang lainnya ribet dengan proposal yang nggak tembus-tembus, aku? dospemku mah iya iya aja hehe. Lancarlah itu. Begitu juga waktu mau seminar, prosesnya cepat padahal mah posisi lagi kurang waktu untuk tidur, ya kerjaanku nongkrong mulu di sekret tiap malem haha.
              Tahun 2017, tahun bagi angkatan 2013 untuk segera pergi dari kampus. aku? masih ngurusin organisasi haha. Masih ingin bermanfaat sih bagi orang lain. 

Jumat, 06 April 2018

Mengklaim Bisa Membaca Masa Depan

Kisah ini terjadi pada tahun 2015 bulan? (ngg...lupa 😄), pada saat itu saya masih kuliah di salah satu Universitas swasta “Y” di Jawa Tengah dan saya tinggal di rumah nenek. Percakapan ini bermula ketika saya dan saudara sepupu saya sebut saja "Mawar" sedang duduk disuatu tempat sebut saja "K" (Kursi). Kita duduk bersebelahan dengan seorang ibu (X) berkaca mata (lupa tanya namanya) *sombong sekali sudah berbincang-bincang tapi tidak tanya namanya* 😁. Yah namanya manusia itu makhluk sosial ya, ada orang disebelah masak dianggurin, sama-sama perempuannya pula...Oke, mulai saja percakapannya, silahkan Anda menilai saya hanya membeberkan fakta ceritanya. 😉
X       : “Mbak, dari mana asalnya bukan orang sini ya?”
S       : “Saya asalnya Rmbgbngkt buk, saya sedang kuliah disini”
X       : “Iya, saya tau kalau mbak bukan orang sini. Mbak kos dimana?” *apa yang membuat beliau bisa menebak saya bukan orang situ? Dari wajah saya? Atau tingkah laku saya yang tidak seperti putri s*l*? Entah lah...*
S       : “Saya ngga kos buk, saya ikut nenek di Krnganyrtntrm.”
X       : “Hla mbak yang satunya?”
M      : “Saya sudah kerja buk, saya saudaranya”
X       : “Pantes mirip ya”
S,M   : (senyum palsu)
X       : “Mbak kamu kalo tidur ga dikamar ya?” (sambil nyeblek tangan saya)
S       : “Hah? Ya kadang saya ketiduran didepan TV buk” (masih berusaha positive thinking)
X      : “Saya melihat dikamar mbak itu ada makhluk halus yang berusaha membuat mbak ga betah tidur di kamar, soalnya dia tidak suka, mbak kan kalo ngaji gitu di kamar to?”
S       : (senyum palsu) *gimana ceritanya, beliau saja tidak tau rumah mbah saya, apa lagi kamar saya..beehhh* (masih berusaha positive thinking)
Iya sih, saya kalo tidur emang sembarangan kan saya orangnya pelor (nempel molor) jadi bisa tidor dmna sajo, bukan karena diusir sama makhluk halus. Kamar milik siapa yang ngusir siapa...hadeeh.
M       : “Woo....ditidurmu selama ini bersama hantu”
X       : “Kalo mbaknya yang ini sepertinya hatinya sudah mantep sama seseorang, sebentar lagi mau nikah ya?”
M       : “AAMIIN Ya Allah”
Sama si M di Aamiinin aja, kan sama aja do’a yaa...padahal saat itu dia masih jombs, lah dia mantep sama siapa dong??? 😂, dan sekarang si M sudah menikah (2016) dengan seseorang yang baru dikenalnya (mksdtnya tidak berpacaran gitu, kenalan lgsung tancap gas nikah *ga pikir panjang mau harga sewa gedung mahal kek, rias manten mahal kek, catring mahal kek, yang penting sah ya 😅*) dan sudah punya anak satu...Alhamdulillah ya.. ga tau yaa ibuknya yang emang tau atau saya yang ga tau..Tapi saya percaya Allah sudah mengatur si M nikah dengan siapa, kapan, dimana. Termasuk pertemuan dengan ibuk ini...Wallahu alam bish shawab. Lanjut...
X    : “Nah mbaknya yang ini pacarnya orang luar negri ya? Atau keturunan dari orang luar?”
S    : (pengen ngakak tapi malu akhirnya hanya senyum dalam hati bilang “lokalan saja ya Allah”) *yak apa se buk, kenal sama orang luar aja nggak 😂*
X     : “Hati-hati lo mbak sama yang sering nyubitin.”
S    : “Iya buk, saya akan hati-hati, kan dicubit itu sakit.” *saya tidak akan membiarkan tubuh ini disakitin..hmmm*
M     : (narik tangan saya) “Mari buk, kita mau lanjut jalan-jalan lagi”
S      : “Mari buk”
X      : “Iya mbak hati-hati ya”
M     : (bisikin saya) “Kalau diladenin bisa dibuat novel, ngarang ceritanya banyak.”
HAHAHA....
Apakah kalian percaya bahwa orang yang seperti itu berbicara fakta tentang masa depan Anda? Tetap yakin kepada Allah, semua sudah diatur oleh Allah. Menurut saya pribadi, percaya sama manusia itu kadang menyakitkan... HAHAHA, saya juga yakin makhluk Allah tidak hanya manusia, ada malaikat penjaga, dan syaiton jin yang menjerumuskan. Berhati-hatilah, jangan mudah percaya 😊 
Terimakasih sudah membaca cerita yang unfaedah ini...Semoga harimu selalu menyenangkan 😊


Dari
Salah satu Author ❤


Malang, 22 Desember 2014 06.20 WIB

              Pagi ini Malang cerah sekali. Hembusan angin pagi seolah berlomba-lomba   memasuki sela-sela jendela kamarku. Jatiluhur 1...