Malang, 11 Agustus 2015 05.00 WIB
Saat ini
langit Malang masih gelap. Seperti biasanya, dingin selalu menemani pagi-pagi
ku disini. “Fik, aku otw ya”. Short message dari Edel, sahabatku, yang selalu
berbaik hati menjemput di kos menuju FK. Pagi ini kami akan berangkat ke Semeru.
Tidak hanya berdua, kami bertujuh belas. Lima belas orang dari Lakesma termasuk
aku dan Edel, kak Denny dari FK juga namun beda organisasi, dan kak Basyit,
teman dari TBM Bumi Gora, Lombok.
Tahun
ini Lakesma mengadakan kembali event ekspedisi Semeru. Karena tahun lalu aku tidak
bisa ikut perihal jadi panitia ospek, kali ini aku mengumpulkan keberanianku
untuk mengikuti pendakian ke Semeru. Latihan fisik sebagai persiapan pun sudah
dimulai dari akhir Juli. Lari, push up, dan sit up. Terbilang masih baru dalam
hal pendakian, aku memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk meyakinkan diri
sendiri bahwa aku mampu. Akhirnya dengan izin Ayah, Ibu, dan kakak yang selalu
bisa membuatku berbesar hati, aku memutuskan untuk ikut.
Setelah
semuanya siap, pukul 06.00 WIB kami berangkat menuju Tumpang dengan angkot AG.
Sesampainya di Tumpang, kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pani
menggunakan jeep. Sekitar pukul 09.00 kami sampai di Ranu Pani. Sembari
menunggu proses registrasi yang lumayan lama, kami sarapan dengan lauk tahu dan
telur ceplok. Tidak seperti biasanya, menu sarapan sederhana ini terasa sangat
lezat.
11.00
WIB pendakian pun dimulai dengan tak lupa sebelumnya kami berdoa terlebih
dahulu. Dengan poster tubuh yang paling mungil diantara kami, aku selalu bilang
dalam hati “jangan sampai merepotkan, jangan sampai merepotkan” (semoga memang
tidak merepotkan). Tidak seperti di Merbabu, track menuju Ranu kumbolo tidak
banyak tanjakan, namun panjang. 6 jam perjalanan kami tempuh. Akhirnya pada
pukul 17.00 WIB, kami sampai di Ranu kumbolo. Masya Allah, selalu kata tersebut
yang aku ucap ketika melihat secuil surga dunia di depan mataku. Nikmat Tuhanku
yang mana lagi yang kudustakan?. Hamparan air danau yang jernih dengan
bukit-bukit di sekelilingnya membuatku terkagum-kagum akan ciptaan Allah yang
satu ini. Kami memutuskan untuk sholat ashar dan dzuhur yang dijamak terlebih
dahulu sebelum mendirikan tenda. Setelah 4 tenda berdiri, kami melaksanakan
sholat maghrib. 19.00 WIB kami telah selesai menyantap makan malam, isya, dan
saatnya istirahat. “Jangan lupa besok bangun 04.30 ya, jam 08.00 kita harus
sudah lanjut perjalanan ke Kalimati”, kata kak Yoga sebelum kami memasuki tenda
masing-masing dan merasakan sensasi dinginnya Ranu Kumbolo di malam hari.
Ranu Kumbolo, 12 Agustus 2015 08.00 WIB
Saat itu
kami sedang bersiap untuk packing, ketika sebuah pengumuman dikumandangkan oleh
seseorang, “Perhatian kepada seluruh pendaki, dilarang melanjutkan pendakian ke
Kalimati sampai batas waktu yang belum ditentukan karena ada insiden yang baru
saja terjadi pagi tadi”. Jleb, sontak aku yang sedang memasukkan barang-barang
ke carier sangat kaget. “Ya Allah, padahal sudah sampai sini, tinggal setengah
perjalanan lagi sampai puncak”, gerutuku dalam hati. Kak Yoga dan Jihad
langsung menghampiri bapak-bapak yang memberikan pengumuman tadi, memastikan
apa yang sebenarnya terjadi dan berusaha untuk menawar keputusan itu. 15 menit
kemudian, mereka kembali dengan membawa beberapa informasi. Ternyata pagi tadi
Semeru berduka. 1 korban meninggal, 1 korban kakinya patah, dan 1 lagi hilang.
Saat ini Tim SAR dan dibantu beberapa relawan masih dalam proses evakuasi
ketiga korban tersebut. Innalillahi wa innailaihi roji’uun, seketika kami ikut
berduka atas kejadian tersebut. Aku sendiri tidak tahu persis kronologis
kejadian tersebut. Bagi kalian yang ingin mengetahui detil kejadiannya, mungkin
di berita-berita online sudah tersebar luas tentang informasi tersebut dan
kalian bisa membacanya sendiri. Jujur aku kecewa dan sedih, namun sekali lagi,
keselamatan adalah hal yang paling penting. Dan aku baru menyadari bahwa
rombongan kami menurutku adalah yang paling beruntung. Selama proses evakuasi
berjalan,ada 3 keputusan dari pihak Balai Besar TNBTS (Taman Nasional Bromo,
Tengger, dan Semeru). Yang pertama, seluruh pendaki yang sudah sampai di
Kalimati harus turun dan tidak boleh naik ke puncak. Yang kedua, seluruh
pendaki yang berada di Ranu Kumbolo tidak boleh meneruskan pendakian dan
dihimbau untuk turun. Dan yang ketiga, seluruh pendaki yang tengah registrasi
di Ranu Pani tidak boleh melakukan pendakian sama sekali. Kami sangat bersyukur
ada di posisi yang kedua, bukan yang pertama atau ketiga. Sehingga rasa kecewa
yang kami rasakan tidak sesakit jika berada di posisi pertama dan ketiga.
Wallahua’lam, Allah Maha Tau Segalanya.
Untuk
mengobati rasa kecewa, kami memutuskan untuk menikmati Ranu Kumbolo lebih lama
lagi. Dengan daypack hitamku, dan beberapa teman lain yang baru pertama kali ke
Semeru, kami bermain di sekitar Ranu Kumbolo. Menaiki Tanjakan Cinta, Oro-oro
Ombo, dan Cemoro Kandang. Perjalanan kami hanya boleh sampai Cemoro Kandang.
Sayang saat itu Oro-oro Ombo yang terkenal dengan Lavender Ungunya yang cantik
sedang gersang karena musim kemarau. Tapi hal itu tak menghalangi kami untuk
tetap mengabadikan momen yang tidak setiap waktu bakal berkesempatan kesini
lagi. Setelah merasa puas, pukul 12.00 WIB kami kembali ke tenda. Aku memilih
bermain jernihnya air Ranu Kumbolo sekalian berwudlu untuk persiapan sholat
dzuhur. Sekitar pukul 13.00 jenazah korban yang meninggal telah sampai di Ranu
kumbolo. Seketika para pendaki mengahampiri dan membentuk lingkaran. Kami semua
mendengarkan adzan yang dikumandangkan untuk almarhumah. Iya, korban yang
meninggal tersebut adalah seorang gadis. Umurnya tidak jauh beda denganku. Isak
tangis terdengar dari para sahabat-sahabat yang menyaksikan prosesi tersebut.
Akupun secara tak sadar meneteskan air mata, seakan merasakan kesedihan yang
mendalam bagi sesama pendaki. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT,
tempatkan dia di tempat terbaikMu, Ya Rabb. Aamiin.
Ini
pertama kalinya aku melihat proses evakuasi korban yang meninggal di gunung.
Pelajaran yang sangat berharga, bahwa puncak bukan segala-galanya. Restu orang
tua sangat penting kemanapun kamu akan berpergian sekalipun itu di pasar. Hal
terpenting adalah selamat hingga kita kembali kerumah. semoga kita semua
senantiasa dibawah lindunganNya, Aamiin.
15.30
WIB kami telah bersiap untuk turun. Awalnya kami berencana untuk bermalam
sekali lagi disini, namun dari pihak Balai Besar TNBTS mengharuskan kami untuk
turun hari ini juga. Pendakian Semeru ditutup total. Ketika selesai berdoa,
korban ke 2 yang kakinya patah telah sampai di Ranu kumbolo. Kami tidak sempat
melihatnya karena hari semakin sore. Semoga yang terbaik buat mas itu, Aamiin.
Sekitar pukul 21.00 WIB kami sampai di Ranu Pani. Kami memutuskan bermalam
disini sebelum besok kembali ke Tumpang.
Ranu Pani, 13 Agustus 2015 08.30 WIB
Jeep
yang akan kami tumpangi sudah datang. Itu tandanya sudah waktunya kami kembali
ke Tumpang. Perjalanan yang sangat mengesankan. 16 orang hebat yang menemaniku
melewati pendakian ini. Terimakasih Lakesma. Terimakasih Kak Yoga, Kak Denny,
Kak Basyit, Mb Laras, Mb sofi, Arief, Jihad, Aufi, Edel, Laras, Dzul, mb
Wardah, Wafa, Laras, Dhia, dan Jeje. Kalian yang terbaik. Sampai ketemu dilain
kesempatan untuk mencoba ketinggian tanah yang lain.
13.00
WIB kami sampai di Malang. Dan, ketika sampai di kos, berita bahwa 1 korban
yang hilang tadi sudah diketemukan. Alhamdulillah, lega sekali mendengar kabar
tersebut. Daaaannn dengan munculnya kabar tersebut, berita selanjutnya adalah
“Pendakian Semeru resmi dibuka kembali hari Jum’at, 14 Agustus 2015”. Aku hanya
nyengir-nyengir sendiri di kamar kosan. Ya mungkin Allah belum kasih izin
kemarin. Dan aku yakin, itu yang terbaik buat kami. Mungkin tahun depan kami akan
kembali kesana jika diizinkan. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar