Selasa, 08 Mei 2018

Malang, 22 Desember 2014 06.20 WIB



              Pagi ini Malang cerah sekali. Hembusan angin pagi seolah berlomba-lomba  memasuki sela-sela jendela kamarku. Jatiluhur 15 pun seperti pagi-pagi biasanya. Yu Rah sudah sibuk di dapur walau umurnya telah terbilang 70 an. Sekarang pukul 05.20, empat puluh menit lagi rutinitas sehari-hari anak kosan akan dimulai. Beli sarapan, sarapan bareng, mandi, dan berangkat kuliah.
            Saat ini aku masih duduk di bangku kuliah semester tiga. Ya, berada di fakultas dan universitas inilah aku melanjutkan perjalanan hidupku layaknya orang-orang seusiaku.  Setiap harinya kesibukan di kampus pun selalu sama. Berangkat jalan kaki, kadang dengan sepeda biru cantikku (yang sekarang tengah sekarat karena bannya kempes), atau seringnya nebeng Ira, teman sekelasku. Jadwal kuliah yang selalu sama, mulai jam 08.00 dan berakhir pukul 15.00 sore, membuatku sering bertanya, “Apakah kamu tidak bosan?”. Mungkin tidak, mungkin juga iya. Akan ada banyak kemungkinan yang  bakal kamu temui dalam perjalanan hidup menuju tujuan yang paling hakiki, yaitu kembali kepadaNya.
            Cerita ini akan dimulai ketika aku di percayakan menjadi bagian kepanitiaan Pengobatan Gratis di Arjowilangun yang diadakan oleh Lakesma, organisasi kebanggaanku. Saat itu, aku lupa tanggal berapa tepatnya, madrasah tempat petis diadakan ramai oleh pengunjung. Disini kata “pengunjung” bukanlah orang-orang yang hendak melihat tontonan, atau ingin berbelanja. Namun mereka adalah pasien-pasien warga desa Arjowilangun yang ingin berobat atas keluhannya,atau sekedar cek kesehatan dirinya.
            “Fik, jangan lupa taruh obat-obat injeksi di bilik dokter, jangan sampai ada yang kelupaan ya”, kata kak Marvin kepadaku. “Siap kak”, jawabku dengan semangat. Dengan hati-hati aku melakukan semua apa yang harus kulakukan di bilik dokter saat itu. Meletakkan handscoon, alkohol, kapas, vial, ampul, spuit, dan sebagainya.
            Pukul 08.30 warga mulai berdatangan. Teman-teman Lakesma yang menjadi partisipan saat itu telah sibuk bertugas. Setengah jam berlalu. Madrasah semakin ramai oleh warga yang berdatangan. Ketika aku tengah sibuk berlarian mengambil obat yang kurang di ruang obat,tiba-tiba seseorang memanggilku, “Fik tenaga pendampingnya kurang,kamu kesana ya”, sambil menunjuk arah meja registrasi di depan. Tanpa disuruh dua kali aku langsung bergegas ke meja registrasi. Sesampainya disana aku langsung mendapat satu pasien yang harus ku dampingi.
            Pasien itu adalah seorang ibu rumah tangga berusia sekitar 40 an. Beliau mempunyai dua orang anak yang masih kecil. Setelah melewati bilik antrean, antropometri, cek tanda-tanda vital, kami berduapun duduk di bangku sederhana yang diletakkan di depan bilik dokter sembari menunggu giliran dipanggil. Beliau sangat ramah sekali kepadaku. Dengan logat Jawa – Maduranya yang kental beliau bercerita sedikit tentang kisah hidupnya. Di tengah asyiknya kami mengobrol, beliau bertanya kepadaku, “Nduk,sampean sekolah neng ngendi?”. “Teng Brawijaya Bu,Malang kota mrika”,jawabku. “wah iyo lha sekolah opo?”,tanya beliau kemudian. “Alhamdulillah sekolah dokter,Bu. Nembe semester tigo kula”,jawabku agak sedikit malu-malu. “wah,nak, ibu doakne mugi sampean mbesok dadi dokter seng sukses,seng iso bantu wong-wong koyok ibu ngene”,kata beliau dengan tulus. “hehe nggih Bu aamiin aamiin matursuwun sanget”,balasku dengan senyum. Percakapan hangat itupun ditutup dengan terpanggilnya kami untuk masuk ke dalam bilik dokter. Ternyata sudah sampai giliran kami.
Doa yang terdengar sederhana tersebut sangatlah berarti bagiku. Namun di sisi lain,kalimat itu sontak membuaku berpikir, “Mau jadi dokter seperti apa aku nanti?, apakah aku bisa menjadi seorang dokter yang baik?yang bermanfaat bagi orang lain?yang tidak hanya berdasar pada tujuan materi semata setelah aku bekerja dan merasakan nikmatnya mendapat pundi-pundi uang dari orang-orang yang malah membutuhkan bantuanku?”. Hingga detik ini,pertanyaan–pertanyaan itu masih belum jelas terjawab olehku. Semoga Sang Khalik memberi kesempatan kepadaku untuk bisa melanjutkan menggores tinta kehidupanku dan menjawab pertanyaan – pertanyaan itu. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malang, 22 Desember 2014 06.20 WIB

              Pagi ini Malang cerah sekali. Hembusan angin pagi seolah berlomba-lomba   memasuki sela-sela jendela kamarku. Jatiluhur 1...